Assalamu 'alaikum Wr.Wb ,  welcome  |  Log in  |  Blog Nabila Rahma on Mobile  |  need help ?

Anak bisa Sakit Karena Kangen Ayah atau Ibu

Ditulis oleh Nabila Rahma on 17 Desember 2017 | Minggu, Desember 17, 2017

Umumnya, anak memiliki kecenderungan untuk lebih dekat pada ayah atau ibu. Nah, ketika sosok yang selama ini dekat dengan dia pergi untuk waktu yang cukup lama, anak bisa merasa kehilangan hingga psikisnya menjadi tidak nyaman, bahkan sakit.

Kedekatan anak dengan salah satu orang tua pada dasarnya dipengaruhi ole respons orang tua pada si anak, demikian dikatakan psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi. Sebab, anak pun bisa melihat bagaimana reaksi yang dikeluarkan orang tua.

"Misal anak lagi cerita, ayahnya ndengerin, nanggepin, sedangkan kalau sama ibu dicueki atau ibunya asyik ngobrol sendiri, pasti anak lebih nyaman sama ayah karena dia nggak merasa diabaikan," tutue Ratih saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (4/11/2015).

Kedekatan anak dengan salah satu orang tua, misalnya ayah juga bisa terjadi karena ayahnya memberi attachment dan respons yahg lebih dibanding dengan ibunya. Tapi, Ratih menegaskan bukan berarti si anak tidak sayang sama ibunya.

Contohnya, saat anak perempuan lebih nyaman ngobrol dengan ayahnya soal hal-hal yang memang sama-sama disukai. Sedangkan jika berbicara dengan ibunya sering tidak nyambung.

"Dekat dengan salah satu orang tua bukan berarti anak cuma sayang sama salah satu pihak aja. Bedakan antara merasa dekat dan merasa sayang ya," tegas pemilik akun twitter @ratihyepe ini.

Ketika anak cenderung lebih dekat dengan salah satu orang tuam ayah atau ibu perlu melihat lagi selama ini respons dia kepada anak bagaimana. Tapi, bukan berarti mereka bersikap permissive alias menuruti semua keinginan anak. Demi bisa dekat dengan anak, semua yang anak mau dituruti merupakan cara yang kurang tepat.

"Caranya bisa dengan tiap anak bicara, ibu mendengarkan lalu merespons," kata Ratih.

Dihubungi terpisah, psikolog Ajeng Raviando mengatakan biasanya memang ketika salah satu orang tua yang jauh atau sibuk bekerja, anak pun jadi lebih dekat dengan salah satu dari mereka. Dalam kondisi ini, orang tua pun harus saling kerja sama aja. Misalnya ketika si ayah kerja di tempat yang jauh, nah ibu harus memberi tahu alasan mengapa tempat sang ayah bekerja jauh.

"Jadi walaupun ayah tidak ada secara fisik nggak ada, cuma perannya sebagai ayah diketahui oleh anaknya. Kan sekarang juga ada teknologi yang bisa mendekatkan anak kepada orang tuanya walaupun secara fisik tidak dekat," tutur Ajeng.

Sumber : health.detik.com/read/2015/11/04/090539/3061408/775/anak-kangen-dengan-ayah-atau-ibu-sampai-sakit-cuma-sayang-salah-satu-ortu
Minggu, Desember 17, 2017 | 0 komentar

Cara Menjaga Psikologis Anak yang Sering di Tinggal Orang Tuanya

Si kecil sakit Saat ditinggal pergi tak akan terjadi asalkan selama ditinggal si kecil memperoleh pengganti figur yang dapat memahami kondisinya.

"Aduh, Keisya sudah tiga hari rewel dan suhu badannya meninggi. Penyebabnya, ia pengen ketemu bapaknya. Padahal suamiku sedang tugas ke luar kota untuk beberapa hari!" keluh seorang ibu.

Jika Ibu-Bapak pernah mengalami kasus serupa, tak perlu langsung panik.
Wajar saja si kecil rewel, enggak mau makan sampai sakit-sakitan ketika ditinggal oleh figur yang ia sayangi. Penyebabnya, jelas Evi Sukmaningrum, tak lain karena pada masa batita, anak sudah mulai menyadari orang-orang yang dekat dengannya atau orang-orang yang sehari-hari ada bersamanya.

Selain itu, batita pun masih mengembangkan ketergantungan yang tinggi pada orang yang biasa merawat atau yang dekat dengannya. Itu berarti bisa orang tua, babysitter atau bahkan kakek dan nenek. "Misal dalam hal ini dengan si bapak. Ketergantungan antar bapak dan anak sudah bersifat interdependensi. Artinya, bapak dan anak masing-masing merasakan kenyamanan dan keamanan ketika berada bersama-sama. Jadi ketika berpisah, bukan anak saja yang merasa tidak nyaman, bapaknya pun ketika pergi merasa kangen," ujar psikolog dari Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta.

Pada umumnya, lanjut Evi, anak akan rewel jika baru pertama kali ditinggal dalam jangka waktu lama. Jika sudah terbiasa, umumnya dalam diri si kecil sudah terbentuk pola; bila orang tua pergi maka akan kembali lagi sehingga anak sudah tidak kaget lagi. "Jika orang tuanya sudah sering pergi lama, namun anak tetap rewel berarti ada yang salah." Misalnya, lanjut Evi, karena ketika pulang, orang tua tidak segera kontak dengan anak atau langsung pergi lagi. "Ini membuat anak merasa jauh sehingga tidak tumbuh kepercayaan kalau orang tuanya pergi akan kembali 'Kok, aku ditinggal-tinggal terus, sih?'

Lain ketika orang tua sering pergi namun ketika kembali langsung memberikan kontak yang kualitasnya luar biasa pada hari-hari sesudahnya." Jadi, tegas Evi, anak merasa tetap disayang. "Kalaupun orang tuanya pergi lagi walaupun lama, ia tetap akan percaya bahwa mereka akan kembali lagi. Ini yang paling penting."

AKAN REWEL
Lalu bagaimana cara menyiasati bila kita harus meninggalkan si kecil untuk pertama kalinya? Menurut Evi, jika kejadian ini baru pertama kali, maka persiapannya memang agak sulit, mau tak mau kita tetap akan mendapatkan kondisi di mana anak tetap akan rewel.

Akan percuma bila kita menjelaskan dengan bahasa, "Dek, Bunda pergi dulu 3 hari, ya!" karena batita belum mengetahui konsep waktu. Yang ia tahu hanya pengertian hari ini saja, belum paham esok, apalagi perkataan "3 hari lagi". Hal itu karena pola pikirnya masih belum konkret, "3 hari itu berapa lama, ya?" Sama juga ketika kita mengatakan, "Bunda mau pergi dulu, ya, tapi pulangnya lama. Jadi jangan cari-cari Bunda!" Perkataan seperti ini juga tidak akan dipahami si kecil karena konsep pergi di situ baginya dapat diartikan hanya sebagai pergi ke kantor dan akan pulang kembali hari itu juga.

"Anak batita sudah memiliki biological clock. Jadi ketika jam 19. 00 si Ibu belum nongol-nongol, padahal biasanya sudah pulang, ia akan merasa kehilangan dan pasti akan bertanya, 'Mama mana?' Kalau dijawab, 'Kan, Ayah sudah bilang tadi kalau Mama perginya lama!' si kecil tetap tidak akan mengerti. Malah ketika si Ibu tidak muncul pada waktu yang diharapkan, rasa amannya pun mulai terusik. Tak heran kalau kemudian ia pun gelisah dan rewel."

Nah, yang bisa kita lakukan, Bu-Pak, pastikan segala kebutuhan fisik anak terpenuhi saat ditinggal pergi salah satu orang tua atau kedua-duanya. Semisal, susu, makanan kesukaan, sampai mainan kesayangan. Lalu carilah subtitute/pengganti. Subtitute ini bisa sang ayah bila ibu yang pergi. Begitu juga sebaliknya, bisa ibu bila ayahnya yang pergi. Bisa juga babysitter atau nenek dan kakek. "Jadi untuk sementara anak mendapatkan rasa aman dari si pengganti."

 Tapi kalau awalnya anak tetap rewel, si pengganti harus maklum karena perasaan aman tidak muncul seketika. "Sedangkan trust anak dengan si figur sudah terbentuk sejak bayi." Tugas subtitute di sini adalah berusaha menenangkan anak ketika ia mulai mencari-cari si figur. Katakan "Mama pasti pulang!" Kita bisa juga menambahkan dengan cerita yang mengetengahkan anak yang berani ditinggal orang tuanya. Semisal, "Dek, si Dino ini kayak Adek, lo. Ditinggal Mama dan Papa tapi enggak nangis. Mama dan Papa Dino seperti Mama dan Papa Adek, pergi mencari uang buat beli susu." Dari situ si kecil memahami bahwa orang tuanya pergi bukan untuk kepentingan mereka saja, tapi juga untuk kepentingannya. Artinya, si kecil juga sudah harus diajak berpikir untuk tidak melihat dari dirinya sendiri, walau ini masih sulit untuk batita, namun tak ada salahnya diperkenalkan.

DUNIA BERMAIN
Jangan dilupakan juga bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Dengan bermain si kecil dapat melepaskan semua hal yang menyakitkan/melukai dirinya. Jadi suguhkan si kecil berbagai aktivitas bermain sehingga membuat anak tidak terfokus pada ketidakhadiran orang tua mereka. "Kalau si kecil dibiarkan tanpa aktivitas, sementara si pengganti juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka anak akan terfokus pada rasa kehilangannya, 'Mama kok, enggak ada, sih!' Maka ia pun akan semakin merasa tidak aman."

Si pengganti pun harus siap si kecil akan melakukan perilaku agresif karena marah tidak dapat bertemu orang tuanya. "Tanyalah dengan memeluk si kecil, 'Kenapa Adek memukul Nenek?' atau 'Adek marah karena ditinggal Ayah, ya?'" Lalu carilah aktivitas pengganti untuk menyalurkan kemarahannya. "Yuk, Dek, kita cabuti rumput-rumput di taman saja!" Atau "Gimana kalau kita kasih makan ayam di halaman?" Aktivitas ini membuat reaksi marah anak bisa tersalurkan dalam bentuk yang lebih positif. Tentu saja semua ini membutuhkan kreativitas dari si pengganti, juga pengertiannya karena anak dalam keadaan tidak aman dan nyaman.

Jika si kecil jadi sulit makan, menurut Evi, sesekali si pengganti bisa melanggar prinsip gizi. Ketika ditanya, "Adek mau makan apa hari ini?" Kalau dijawab "Hamburger!", ya, untuk kali ini bolehlah memberinya makanan tersebut kendati sebelumnya ia tidak boleh menyentuh junk food. "Kita, kan, juga perlu memahami bahwa anak sedang dalam keadaan tidak nyaman." Toh, saat sedang tidak mood, orang dewasa pun enggak mau makan apa-apa. Agar anak tetap memperoleh energi, ia bisa makan apa yang ia sukai. "Enggak mungkin anak dipaksa makan sesuatu yang rutin, padahal waktu itu dalam keadaan tidak mood. Jadi, walaupun tidak bergizi tapi yang penting si kecil kemasukan energi dulu." Setelah itu baru si kecil bisa dibujuk, makan makanan yang bergizi sambil berjalan-jalan. "Sekarang Adek harus makan sayur bayamnya, supaya sehat. Kalau Mama pulang, tapi Adek sakit, jadi enggak bisa jalan-jalan, dong!"

Hal penting lain, Ibu-Bapak yang meninggalkan si kecil, sebisa mungkin selalu melakukan kontak telepon untuk mengetahui kondisi rumah dan juga memantau keadaan si kecil. Kalau si kecil sudah bisa diajak berkomunikasi akan lebih baik lagi karena dengan mendengar suara orang yang disayangi setidaknya akan menghibur. "Kontak ini dimaksudkan walaupun si kecil jauh dari orang yang disayanginya, namun tetap ada suara yang bisa ia dengarkan," ujar Evi.

KETIKA SUDAH PULANG
Saat Bapak atau Ibu kembali ke rumah, tak berarti masalah selesai. Karena ekspresi si kecil dalam mengungkapkan perasaan tidak aman/nyaman bisa beraneka cara. Ingat, lo, rasa kehilangan dapat menimbulkan rasa kangen juga rasa marah/jengkel. Perasaan yang sudah berkecamuk dalam diri anak selama beberapa waktu, akan segera dilampiaskan ketika si figur datang. "Yang ingin dilakukan anak adalah mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam perasaannya. Dalam mengungkapkan perasaan ini, kadangkala anak menjadi agresif dengan memukuli si ibu atau bapak untuk mengungkapkan, 'Aku marah, kenapa Mama atau Ayah meninggalkan aku lama-lama!' Namun kemarahan ini biasanya hanya bersifat temporer," kata Evi.

Ekspresi lain yang mungkin muncul adalah tak mau berpisah dengan si figur tadi. Ini juga wajar saja karena selama si figur pergi, si kecil merasa kehilangan rasa aman. Jadi ketika si figur kembali, si kecil akan mengkompensasi rasa ketidaknyamanannya selama si figur pergi dengan memeluk, menangis, dan tidak merelakan si figur pergi.

Cara menyiasati hal seperti ini, untuk sementara anak jangan ditinggal pergi dulu. "Pernyataan tidak hanya secara verbal tapi juga nonverbal, yang menyatakan bahwa 'Adek tidak akan ditinggal lagi, Ibu atau Ayah akan ada di samping Adek.' Jadi untuk sementara turuti kemauan si kecil. Jika ia ingin dipeluk, peluklah dia. Jika ingin digendong, gendonglah ia. Karena semua itu merupakan ungkapan rasa kangen dan kemarahannya ketika ditinggal. Pelukan dapat meredakan/membantu mengeluarkan kemarahan anak, dibanding jika si ibu/ayah menolak dengan alasan lelah, misal, maka anak akan lebih terluka".

Kemungkinan lain yang bisa terjadi adalah si kecil terlihat lebih akrab dengan si subtitute ketimbang sebelumnya. Nah, kalau sudah begini, tak perlu langsung khawatir, si kecil akan melupakan kita begitu saja. Coba pikirkan bagaimana cara mengambil hatinya kembali. Semisal, dengan memberikan pertemuan yang berkualitas. Ketika pulang, kita bisa mengambil alih tugas si pengganti, misal menyuapi anak. Ungkapkan juga pada anak secara jujur perasaan kita, "Bunda kangen banget sama Adek. Jadi kali ini yang nyuapin Bunda aja, ya, Mbak biar istirahat dulu!" misal.

Jadi, Bu-Pak, kalau hanya terjadi sekali dua kali si kecil jadi rewel, itu kondisi yang lazim karena ia merasa tidak nyaman ketika orang tuanya tidak ada. Tapi kalau kerewelan itu terus-menerus terjadi setiap orang tua pergi, kemungkinan si kecil kehilangan trust. Jangan-jangan kita sering meninggalkan si kecil namun ketika kembali tidak membayar kembali rasa aman yang hilang pada diri si kecil?

Segala sesuatunya berpulang kembali pada diri kita masing-masing. Karena ternyata kitalah yang sudah menjadikannya demikian, kan?

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan ibu:
  1. Ketika ibu bekerja, siapakah pengganti dari ibu, karena peran pengganti figur ibu juga menentukan keoptimalan dari perkembangan anak. Untuk ibu perlu bekerja sama dengan pengasuh agar dapat  terus memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Ibu harus aktif mencari tahu segala informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak.
  2. Ibu harus meluangkan waktu untuk memenuhi waktu yang hilang bersama dengan anak. Dengan demikian kedekatan emosional masih terus terjaga dan ibu bisa terus memberikan stimulus pada anak supaya pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berkembang secara optimal.
  3. Anak yang tumbuh dengan sehat maka kemampuannya juga akan berkembang dengan baik, dengan kata lain anak yang sehat secara fisik maka kecerdasannya juga akan berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
  4. Kecuali jika ada kasus-kasus khusus pada anak, misalnya autis, hiperaktif, dll maka hal ini diperlukan penanganan khusus.
Untuk Anda yang baik hati, Anda dapat membantu tetangga Anda dengan memberikan dukungan untuk selalu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak. Banyak sekali informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak dan bagaimana kita merangsang pertumbuhan dan perkembangan agar anak dapat berkembang secara optimal. Untuk anaknya,  jika di lingkungan anda ada PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), maka akan lebih baik jika si anak diajak untuk ikut, karena disana ia akan belajar bersosialisasi dan mengembangkan keterampilannya sehingga dapat meningkatkan kecerdasan anak.
Sumber : fn/cbn/ia/SuaraMedia News
Minggu, Desember 17, 2017 | 0 komentar

Inilah yang terjadi Pada otak Anak Anda ketika di Bentak

Ditulis oleh Nabila Rahma on 26 November 2017 | Minggu, November 26, 2017

Siapa dari Anda yang pernah memarahi anak dengan cara membentak-bentak atau berteriak? Tahukah bahwa cara itu justru berdampak buruk pada perkembangan otak anak.

Dokter ahli ilmu otak dari Neuroscience Indonesia, Amir Zuhdi, menjelaskan, ketika orangtua membentak, anak akan merasa ketakutan. Ketika muncul rasa takut, produksi hormon kortisol di otak meningkat.

"Otak itu bekerja bukan hanya secara struktural, melainkan ada listriknya, ada hormonalnya. Ketika anak belajar neuronnya menyambung, berdekatan, antar-neuron semakin lama semakin kuat, sistem hormonal juga bekerja," kata Amir saat ditemui seusai Festival Kabupaten/Kota Layak Anak di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (7/11/2015).

Nah, pada anak-anak, tinginya hormon kortisol itu akan memutuskan sambungan neuron atau sel-sel di otak. Selain itu, akan terjadi percepatan kematian neuron atau apoptosis. Lalu, apa akibatnya jika neuron terganggu?

Menurut Amir, banyak hal yang bisa terjadi, seperti proses berpikir anak menjadi terganggu, sulit mengambil keputusan, anak tidak bisa menerima informasi dengan baik, tidak bisa membuat perencanaan, hingga akhirnya tidak memiliki kepercayaan diri.

"Neuron ini kan isinya file-file. Kalau dalam jumlah banyak (kematian neuron), dia jadi lelet," kata Amir.

Amir menjelaskan, bagian otak anak yang pertama kali tumbuh adalah bagian otak yang berkaitan dengan emosi. Dalam bagian itu, paling besar adalah wilayah emosi takut. Itulah mengapa saat anak-anak akan mudah merasa takut.

Semakin sering dibentak dengan keras dan membuat anak takut, semakin tinggi pula kerusakan pada neuron. Menurut Amir, orangtua juga harus bisa mengelola emosi. Ketika anak berbuat salah, katakan salah dengan memberi pengertian tanpa membentak-bentak.

Sumber:http://lifestyle.kompas.com/read/2015/11/08/14030002/.Yang.Terjadi.Pada.Otak.Anak.Ketika.Dibentak.Orangtua?
Minggu, November 26, 2017 | 0 komentar

Jangan Pernah Membentak Anak-anak

Ditulis oleh Nabila Rahma on 23 November 2017 | Kamis, November 23, 2017

Dulu Aku Sering "Bentak-bentak Anakku", Tapi Setelah Membaca "Kalimat yang Satu Ini", Hatiku Langsung Sakit Bagai Ditusuk Jarum Bertubi-tubi!!

Kalau kamu punya anak atau kelak mau punya anak, bacalah sebelum menyesal sepertiku!

Menjadi orang tua itu tidak mudah. Kadang kita merasa capek, tapi anak terus bertingkah, membuat kita pun jadi emosi. Ucapan kita jadi kasar dan membentak anak. Tapi, apakah orang tua sekalian sadar? Ketika kita memarahi anak, bukan cuma kita yang sakit, tapi juga anak kita?

Di Jerman, terbit sebuah buku anak berjudul "Shrill Mother" yang menceritakan kisah seekor ibu penguin yang sering memarahi dan membentak-bentak anaknya. Buku ini mendapat penghargaan tertinggi sastra di Jerman dan telah dibaca lebih dari seratus juta kali.

Begini ceritanya:

Pagi ini, ibuku tiba-tiba kehilangan kesabarannya. Dia berteriak marah padaku!

Akibat dimarahi olehnya, Aku terkejut takut sampai seluruh tubuhku mental terbang...

Otakku mental ke alam semesta.

Perutku mental ke laut.

Sayapku jatuh ke hutan.

Mulutku terdampar di pegunungan.

Ekorku? Tertinggal di jalan seperti anak kehilangan...

Aku tinggal sisa sepasang kaki, hanya bisa berlari dan berlari ...

Aku ingin berteriak, tapi tidak ada mulut. Aku ingin mencari, tapi tidak ada mata. Aku ingin terbang tapi tidak ada sayap.

Aku terus lari dan berlari, tidak tahu harus ke mana

Saat ini, sebuah bayangan besar menutupiku.

Ternyata itu adalah ibu! Ia datang mencariku!

Dia telah mengumpulkan semua bagian-bagian tubuhku yang hilang dan membantuku menjahitnya kembali.

"Maafkan ibu..", kata ibu kepadaku. Setelah itu, kita berlayar pulang ke rumah.

Cerita ini membuatku tersadar akan sesuatu yang sangat penting.

Aku ingat beberapa hari yang lalu, anakku berkata kepadaku, "Bu, nanti kalau punya adik, saya akan berbicara baik-baik dengan mereka, tidak akan seperti ibu, marah-marah, keras-keras!"

Kadang, gara-gara aku marahi, anakku menangis dan berkata, "Ibu bisa lembut dikit gak?"

Sebenarnya, aku sudah lama berusaha untuk mengontrol dan mengintrospeksi diri, tapi aku sendiri pun tumbuh besar di keluarga yang selalu bentak-bentak, tidak pernah ngomong baik-baik. Nenekku suka marah-marah, ayahku juga suka marah-marah, jadi otomatis sifatku juga sama seperti mereka.

Baru kemudian aku sadar betapa besar pengaruh keluarga terhadap anak. Kalau orang tua selalu menumpahkan emosi pada anak, menggunakan nada bicara yang kasar dan memarahi anak, anak-anak akan mengira seperti inilah cara yang "normal" orang-orang dalam berkomunikasi.

Tapi aku juga sadar, seringkali karena aku menggunakan nada suara yang salah, aku jadi menyinggung perasaan orang lain dan sering disalahpahami oleh orang lain. Sekalipun maksudku adalah baik, tapi yang orang lain "tangkap" bukanlah seperti itu.

Sampai suatu hari, nada bicara anakku jadi sama persis sepertiku, aku sadar bahwa aku harus berubah. Aku berpesan pada anakku, "Kalau ibu bentak kamu lagi, suruh ibu lembut dikit ya." Meski proses perubahan ini menyakitkan, tapi perlahan aku merasa akan suasana di rumah jauh lebih baik, suasana hati suami dan anak-anak juga jauh lebih baik.

Cuma dengan mengendalikan emosi kita, kita bisa memberitahu anak: berbicara dengan suara keras tidak dapat memecahkan masalah, marah-marah tidak dapat memecahkan masalah. Sebaliknya, kalau kita sabar dan ngomong baik-baik, sebenarnya kita bisa menyelesaikan masalah dengan baik.

Mudah-mudahan setiap orang tua tahu seberapa besar dampak yang kita berikan terhadap anak-anak kita saat kita marah. Seperti penguin kecil dalam buku gambar, merasa takut dengan raungan ibu, seluruh tubuhnya robek. Fisik dan kejiwaannya berantakan, kehilangan arah, tidak ada tempat untuk bersandar. Anak akan sangat ketakutan, tak berdaya, kebingungan, seakan dunia ini mau hancur. Dalam jangka panjang, anak-anak akan meniru pola bicara kita ketika bergaul dengan orang lain, begitu juga ketika mereka dewasa bergaul dengan kekasih dan anak-anak mereka, juga dengan cara seperti ini, karena itu itu satu-satunya cara yang ia tahu sejak kecil.

Tentu saja, tidak ada orang yang sempurna. Kadang kita juga bisa khilaf, capek, dan sontak berbicara dengan nada marah-marah, tapi ingat, setelah itu, mintalah maaf pada anak karena papa dan mama sudah berbicara keras-keras padamu, bukan karena papa mama tidak sayang padamu, tapi karena ada asalan A atau B dan ngomong baik-baik sama mereka.

Terakhir, yang terpenting, belajarlah mengontrol emosi. Jangan biarkan emosi menjadi sesuatu yang "normal" dalam berinteraksi dengan anak. Ketika kecil anak dibentak, nanti sudah besar, jangan salahkan anak apabila mereka memperlakukanmu dengan cara yang sama! Semoga ini menjadi sebuah pelajaran yang berharga bagi semua orang tua!

Sumber:www.cerpen.co.id
Kamis, November 23, 2017 | 0 komentar

Kata Pak Mario Teguh

Kata Pak Mario Teguh
"Anda sedang berada di Halaman Blog Parenting dan Dunia anak-anak,Berita anak-anak,dan Hal-hal yang berhubungan dengan anak-anak".

"Terima kasih atas kunjungannya,dan jangan segan segan untuk memberikan kritik,saran dan Komentar,demi kemajuan dan koreksi tentang Content Blog yang kami suguhkan ".

Form Saran dan Komentar Klik disini
"Jika memang ingin menjadi orang tua tegas,tidak harus dengan marah-marah dan membentak.Tegas bisa di lakukan dengan mengingatkan tanpa harus membentak"
"Anak-anak tidak akan mengingat anda pada hal-hal materi apa yang telah diberikan, tapi mereka akan mengingat seberapa besar kasih sayang yang diberikan orang tuanya"
"Anak memiliki ingatan yang tajam terhadap suatu janji,dan ia sangat menghormati orang-orang yang menepati janji baik untuk beri hadiah atau janji memberi sanksi"
"Anak-anak seperti semen basah, mengapa demikian? karena apapun yang jatuh padanya itu selalu membekas"

Al Maidah ayat 51

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu);sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin,maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".

Nabila Rahma On Facebook Seluler
Firman Allah,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” (Al-Baqarah: 216).

Benar, boleh jadi Anda wahai suami atau istri membenci sesuatu pada pasanganmu, kata-kata, sikap, kebiasaan dan lain-lain, akan tetapi siapa sangka justru apa yang kamu benci itu ternyata mengandung kebaikan bagi Anda berdua, sebaliknya juga demikian.
"Rumah terbuat dari dinding dan jendela. Rumah Tangga terbuat dari kasih dan cita-cita"

Blog Archives

BRILink Nabila

Total Pengunjung